Rabu, 07 Desember 2011

Keutamaan Hari Jum'at



Ketahuilah, sesungguhnya Jum’at merupakan hari yang agung, Allah mengagungkan Islam dengan hari Jum’at dan mengistimewakan kaum muslimin juga dengan hari Jum’at. Allah swt. berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (٩)
Artinya:
Apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.” (QS. Al-Jumu’ah: 9)
Haram sibuk dengan segala urusan dunia dan segala hal yang dapat memalingkan untuk berangkat menunaikan shalat Jum’at. Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla mewajibkan atas kamu semua shalat Jum’at pada hari ini, di tempatku ini.
Nabi saw. juga bersabda, “Barangsiapa yang meninggalkan shalat Jum’at tiga kali, tanpa uzur, maka Allah akan mencap (menutup) hatinya.” Dalam sebuah lafal hadis yang lain dikatakan, “Maka sungguh dia telah membuang Islam di belakang punggungnya.”
Seorang laki-laki berselisih pendapat dengan Ibnu Abbas. Dia bertanya kepada Ibnu Abbas mengenai seorang laki-laki yang mati dan tidak pernah menghadiri shalat Jum’at, dan tidak pula shalat berjama’ah. Ibnu Abbas berkata, “Dia di dalam neraka.” Laki-laki itu tidak henti-hentinya hilir mudik selama satu bulan, dengan pertanyaan seperti itu. Dan Ibnu Abbas tetap berkata, “Dia di dalam neraka.”
Di dalam al-khabar dikatakan, “Sesungguhnya orang-orang yang memiliki dua buah kitab telah diberi hari Jum’at. Mereka berselisih dan berpaling darinya. Allah telah menunjukkan kita kepada hari itu dan Dia mengakhirkannya untuk umat ini. Dia menjadikannya sebagai hari raya bagi umat ini. Mereka adalah manusia yang paling berhak dengan hari itu, lebih dahulu, dan orang-orang yang memiliki dua buah al-Kitab itu menyusul mereka.” Anas meriwayatkan dari Nabi saw., sesungguhnya beliau bersabda, “Jibril datang padaku, di telapak tangannya terdapat cermin yang putih dan berkata, “Ini adalah Jum’at, Tuhan memfardukannya kepadamu agar menjadi hari raya bagimu dan bagi umatmu sepeninggalmu.” Aku berkata, “Keuntungan apa yang ada pada hari itu bagi kami?” Dia berkata, “Anda memiliki satu saat yang paling baik, barangsiapa yang berdo’a pada saat itu dengan suatu kebaikan yang telah ditentukan baginya, tentu Allah akan memberinya kebaikan itu padanya, atau tidak ada bagian yang disimpan untuknya yang lebih agung dari itu, atau dia memohon perlindungan dari kejelekan yang telah tertulis atas dia, kecuali Allah akan melindunginya dengan perlindungan yang lebih besar dari itu.
Jum’at adalah pemimpin semua hari dan kita akan menyebutnya besok pada hari akhirat dengan hari tambahan. Aku bertanya, mengapa? Dia berkata, “Sesungguhnya Tuhanmu menjadikan di dalam surga, lembah yang lebih harum dari misik putih. Ketika hari Jum’at, Allah turun dari ‘Illiyyin pada Kursi-Nya, maka dia menjadi jelas bagi mereka, sehingga dapat melihat pada wajah-Nya yang mulia.” Nabi saw. bersabda, “Sebaik-baik hari yang matahari terbit pada hari itu ialah pada hari Jum’at. Pada hari itu, Allah menciptakan Adam, pada hari itu Dia memasukkan Adam ke surga dan pada hari itu pula ia diturunkan ke bumi. Pada hari Jum’at tobat Adam diterima, pada hari itu ia mati, dan pada hari itu pula hari kiamat ditegakkan. Hari Jum’at dalam pandangan Allah adalah hari tambahan. Demikianlah malaikat menamakannya di langit. Hari Jum’at adalah hari melihat pada Allah di dalam surga." Dalam sebuah khabar (hadis), “Sesungguhnya Allah swt. setiap Jum’at memerdekakan enam ratus ribu dari penghuni neraka.”
Dalam hadis yang diriwayatkan Anas, dari Nabi saw. sesungguhnya dia bersabda, “Apabila hari Jum’at selamat, maka selamatlah hari-hari yang lain.” Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya neraka Jahim dinyalakan setiap hari, sebelum matahari bergeser dari posisi tengah di jantung langit, maka janganlah shalat pada saat itu, kecuali pada hari Jum’at. Karena hari Jum’at adalah shalat seluruhnya, dan neraka Jahannam tidak dinyalakan pada hari itu.”
Ka’ab berkata, “Sesungguhnya Allah memuliakan Makkah di antara negara-negara yang lain, memuliakan bulan Ramadhan daripada bulan-bulan lainnya, memuliakan hari Jum’at daripada hari-hari yang lainnya dan memuliakan malam qadar daripada malam-malam lainnya.”
Nabi saw. bersabda, “Barangsiapa yang mati pada hari Jum’at, Allah mencatat baginya pahala orang yang mati syahid dan diselamatkan dari siksa kubur.”

Sumber: Al-Ghazali, Mukasyafah al-Qulub (Menyingkap Rahasia Qolbu), penerj. Moh. Syamsi Hasan, Surabaya: Penerbit Amelia, tth., Hlm. 478-480.

3 komentar: