Jumat, 11 Oktober 2013

Rahmat Bagi Seluruh Alam



Pada minggu kedua bulan Rabi’ al-Awwal Tahun Gajah yang bertepatan dengan bulan April 580 M, di Makkah lahirlah seorang anak manusia dalam keadaan yatim. Nama anak inilah yang hingga kini disebut-sebut oleh ratusan juta manusia disertai dengan decakan kekaguman. Beliau adalah Muhammad saw.
Dengan budi luhur, ilmu pengetahuan, sikap kesatria, dan ketekunan, beliau menyebarluaskan rahmat dan kasih bagi seluruh alam.
Dengan rahmat tersebut, terpenuhilah hajat batin manusia menuju ketenangan, ketenteraman, dan pengakuan atas wujud, hak, bakat, dan fitrahnya sebagaimana terpenuhi pula hajat keluarga kecil dan besar akan perlindungan, bimbingan, pengawasannya serta saling pengertian dan perdamaian.
Rahmat tersebut bukan hanya dirasakan oleh pengikut-pengikutnya, bahkan bukan hanya manusia. Sebelum Eropa mengenal Organisasi Pencinta Binatang, Muhammad saw. telah mengajarkan: “Apabila kalian mengendarai binatang, berikanlah haknya, dan janganlah menjadi setan-setan terhadapnya.”
Seorang wanita dimasukkan Tuhan ke neraka dikarenakan ia mengurung seekor kucing, tidak diberinya makan, dan juga tidak dilepaskan untuk mencari makan sendiri.”
Sebaliknya, pada saat yang lain beliau bersabda:
Seorang yang bergelimang di dalam dosa diampuni Tuhan karena memberi minum seekor anjing yang kehausan.”
Sebelum dunia mengenal istilah “kelestarian lingkungan”, manusia agung ini telah menganjurkan untuk hidup bersahabat dengan alam. Tidak dikenal istilah penundukkan alam dalam ajarannya, karena istilah ini dapat mengantarkan manusia kepada sikap sewenang-wenang, penumpukan tanpa batas tanpa pertimbangan pada asas kebutuhan yang diperlukan. Istilah yang digunakan oleh beliau adalah “Tuhan memudahkan alam untuk dikelola manusia” (lihat QS 14: 32). Pengelolaan disertai dengan pesan untuk tidak merusaknya, bahkan mengantarkan setiap bagian dari alam ini untuk mencapai tujuan penciptaannya. Karena itu, terlarang dalam ajarannya menjual buah yang mentah, atau memetik kembang yang belum mekar. “Biarkan semua bunga mekar agar mata menikmati keindahannya dan lebah mengisap sarinya.”
Rahmat yang dibawanya bahkan menyentuh benda-benda yang tak bernyawa. Beliau sampai-sampai memberi nama untuk benda-benda yang dimilikinya. Perisai yang dimilikinya diberi nama Dzat al-Fudhul, pedangnya dinamai Dzulfiqar, pelananya dinamai Al-Daj, tikarnya dinamai Al-Kuz, cerminnya dinamai Al-Midallah, gelasnya dinamai Al-Shadir, tongkatnya dinamai Al-Mamsyuk, dan lain-lain. Semuanya dinamai dengan nama-nama yang indah dan penuh arti seakan-akan benda-benda yang tak bernyawa tersebut mempunyai kepribadian yang juga membutuhkan uluran tangan, pemeliharaan, persahabatan, rahmat, dan kasih sayang.
Jika ada yang bertanya, “Terasakah rahmat kasih sayang dengan segala aspeknya itu dalam kehidupan bermasyarakat umat?” Entah apa jawaban Anda, tetapi kalau kita menoleh ke Dunia Islam, rasanya menggeleng lebih tepat daripada mengangguk. Mungkin sebagian sebabnya adalah karena sikap mental saya, Anda, dan banyak di antara kita, yang belum benar-benar terbentuk sesuai dengan pola yang dikehendaki oleh ajaran yang dibawa oleh manusia agung ini. Atau karena ajaran-ajarannya yang kita praktikkan baru terbatas pada segi-segi ritual dan belum menyentuh segi-segi sosial dan ekonomi. Kalaupun tersentuh, belum dilaksanakan secara teratur, terorganisasi, dan bersama-sama. Memang, kita sudah sangat pandai memohon rahmat (kepada Tuhan dan sesama manusia), tetapi kita belum mampu meraihnya, apalagi membaginya.

Sumber: M. Quraish Shihab, Lentera Hati: kisah dan hikmah kehidupan, Bandung: Mizan, 2007, hlm. 40-43.

Senin, 06 Februari 2012

Maulid Nabi saw. tanggal 9 Rabi’ul Awwal, bukan tanggal 12 Rabi’ul Awwal?



Maulid Nabi atau hari kelahiran Nabi Muhammad saw. adalah tanggal 9 Rabi’ul Awwal, pada hari Senin pagi –permulaan tahun dari peristiwa gajah, atau bertepatan dengan tanggal 20 atau 22 bulan April tahun 571 M.
Hal tersebut seperti dikemukakan oleh ulama terkenal, Muhammad Sulaiman Al-Manshurfury dan peneliti astronomi Mahmud Basya berdasarkan penelitiannya, yang dikutip oleh Syaikh Shafiyyur Rahman Al-Mubarakfury, dalam Bukunya yang berjudul Ar-Rahiqul Makhtum, Bahtsun Fis-Sirah An-Nabawiyah Ala Shahibiha Afdhalish Shalati Was-Salam yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan Judul Sirah Nabawiyah:

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Salam dilahirkan di tengah keluarga Bani Hasyim di Makkah pada Senin pagi, tanggal 9 Rabi’ul Awwal, permulaan tahun dari peristiwa gajah, dan empat puluh tahun setelah kekuasaan Kisra Anusyirwan, atau bertepatan dengan tanggal 20 atau 22 bulan April tahun 571 M. Berdasarkan penelitian ulama terkenal, Muhammad Sulaiman Al-Manshurfury dan peneliti astronomi Mahmud Basya.

Jadi, hari kelahiran Nabi Muhammad saw. bukan jatuh pada tanggal 12 Rabiul Awwal seperti yang diketahui selama ini, tetapi tanggal 9 Rabiul Awwal menurut ulama terkenal tersebut.
Namun hal tersebut bukanlah merupakan sesuatu yang menjadi pokok dalam keyakinan aqidah kita, bukan pula masalah yang prinsip yang menjadi bagian dari keimanan kita. Hal ini hanyalah sekedar informasi, sehingga perbedaan pendapat tersebut tidak seyogianya menjadi bahan perdebatan di antara kita sebagai kaum Muslim.
Wallahu ‘A’lam…

Selasa, 27 Desember 2011

Humor Sufi

Cerita ini saya kutip penuh dari buku Humor Sufi III, penerbit pustaka Firdaus. Selamat membaca...

*****
Alasan. Pada suatu hari Nasruddin pergi menemui seorang yang kaya raya.
“Tolong, beri saya uang.”
“Untuk apa?”
“Saya ingin membeli… seekor gajah.”
“Jika kau tidak beruang, kau tidak akan mampu memelihara seekor gajah.”
“Saya datang kesini,” kata Nasruddin, “Untuk mendapatkan uang, bukan nasihat.” ^_^

Guna Sebuah Lampu. “Aku bisa melihat dalam gelap,” bual Nasruddin suatu hari di warung kopi.
“Kalau betul begitu, kenapa kami terkadang melihatmu membawa lampu ketika kau berjalan di malam hari?”
“O, itu sih hanya untuk mencegah agar orang tidak menabrakku.”  ???

Sumber: Humor Sufi III, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2007.

Rabu, 07 Desember 2011

Keutamaan Hari Jum'at



Ketahuilah, sesungguhnya Jum’at merupakan hari yang agung, Allah mengagungkan Islam dengan hari Jum’at dan mengistimewakan kaum muslimin juga dengan hari Jum’at. Allah swt. berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (٩)
Artinya:
Apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.” (QS. Al-Jumu’ah: 9)
Haram sibuk dengan segala urusan dunia dan segala hal yang dapat memalingkan untuk berangkat menunaikan shalat Jum’at. Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla mewajibkan atas kamu semua shalat Jum’at pada hari ini, di tempatku ini.
Nabi saw. juga bersabda, “Barangsiapa yang meninggalkan shalat Jum’at tiga kali, tanpa uzur, maka Allah akan mencap (menutup) hatinya.” Dalam sebuah lafal hadis yang lain dikatakan, “Maka sungguh dia telah membuang Islam di belakang punggungnya.”
Seorang laki-laki berselisih pendapat dengan Ibnu Abbas. Dia bertanya kepada Ibnu Abbas mengenai seorang laki-laki yang mati dan tidak pernah menghadiri shalat Jum’at, dan tidak pula shalat berjama’ah. Ibnu Abbas berkata, “Dia di dalam neraka.” Laki-laki itu tidak henti-hentinya hilir mudik selama satu bulan, dengan pertanyaan seperti itu. Dan Ibnu Abbas tetap berkata, “Dia di dalam neraka.”
Di dalam al-khabar dikatakan, “Sesungguhnya orang-orang yang memiliki dua buah kitab telah diberi hari Jum’at. Mereka berselisih dan berpaling darinya. Allah telah menunjukkan kita kepada hari itu dan Dia mengakhirkannya untuk umat ini. Dia menjadikannya sebagai hari raya bagi umat ini. Mereka adalah manusia yang paling berhak dengan hari itu, lebih dahulu, dan orang-orang yang memiliki dua buah al-Kitab itu menyusul mereka.” Anas meriwayatkan dari Nabi saw., sesungguhnya beliau bersabda, “Jibril datang padaku, di telapak tangannya terdapat cermin yang putih dan berkata, “Ini adalah Jum’at, Tuhan memfardukannya kepadamu agar menjadi hari raya bagimu dan bagi umatmu sepeninggalmu.” Aku berkata, “Keuntungan apa yang ada pada hari itu bagi kami?” Dia berkata, “Anda memiliki satu saat yang paling baik, barangsiapa yang berdo’a pada saat itu dengan suatu kebaikan yang telah ditentukan baginya, tentu Allah akan memberinya kebaikan itu padanya, atau tidak ada bagian yang disimpan untuknya yang lebih agung dari itu, atau dia memohon perlindungan dari kejelekan yang telah tertulis atas dia, kecuali Allah akan melindunginya dengan perlindungan yang lebih besar dari itu.
Jum’at adalah pemimpin semua hari dan kita akan menyebutnya besok pada hari akhirat dengan hari tambahan. Aku bertanya, mengapa? Dia berkata, “Sesungguhnya Tuhanmu menjadikan di dalam surga, lembah yang lebih harum dari misik putih. Ketika hari Jum’at, Allah turun dari ‘Illiyyin pada Kursi-Nya, maka dia menjadi jelas bagi mereka, sehingga dapat melihat pada wajah-Nya yang mulia.” Nabi saw. bersabda, “Sebaik-baik hari yang matahari terbit pada hari itu ialah pada hari Jum’at. Pada hari itu, Allah menciptakan Adam, pada hari itu Dia memasukkan Adam ke surga dan pada hari itu pula ia diturunkan ke bumi. Pada hari Jum’at tobat Adam diterima, pada hari itu ia mati, dan pada hari itu pula hari kiamat ditegakkan. Hari Jum’at dalam pandangan Allah adalah hari tambahan. Demikianlah malaikat menamakannya di langit. Hari Jum’at adalah hari melihat pada Allah di dalam surga." Dalam sebuah khabar (hadis), “Sesungguhnya Allah swt. setiap Jum’at memerdekakan enam ratus ribu dari penghuni neraka.”
Dalam hadis yang diriwayatkan Anas, dari Nabi saw. sesungguhnya dia bersabda, “Apabila hari Jum’at selamat, maka selamatlah hari-hari yang lain.” Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya neraka Jahim dinyalakan setiap hari, sebelum matahari bergeser dari posisi tengah di jantung langit, maka janganlah shalat pada saat itu, kecuali pada hari Jum’at. Karena hari Jum’at adalah shalat seluruhnya, dan neraka Jahannam tidak dinyalakan pada hari itu.”
Ka’ab berkata, “Sesungguhnya Allah memuliakan Makkah di antara negara-negara yang lain, memuliakan bulan Ramadhan daripada bulan-bulan lainnya, memuliakan hari Jum’at daripada hari-hari yang lainnya dan memuliakan malam qadar daripada malam-malam lainnya.”
Nabi saw. bersabda, “Barangsiapa yang mati pada hari Jum’at, Allah mencatat baginya pahala orang yang mati syahid dan diselamatkan dari siksa kubur.”

Sumber: Al-Ghazali, Mukasyafah al-Qulub (Menyingkap Rahasia Qolbu), penerj. Moh. Syamsi Hasan, Surabaya: Penerbit Amelia, tth., Hlm. 478-480.

Keutamaan Hari Asyura'


Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. ia berkata, Rasulullah saw. datang di Madinah, lalu beliau menemukan orang-orang Yahudi sedang berpuasa hari Asyura’, beliau bertanya pada mereka mengenai hal itu. Mereka berkata, “Sesungguhnya hari ini Allah memenangkan Musa dan Bani Israil atas kaum Fir’aun. Maka kami puasa hari itu, untuk mengagungkannya.” Nabi saw. bersabda, “Kami adalah orang-orang yang lebih berhak dengan Musa daripada Anda.” Lalu beliau memerintahkan untuk berpuasa.
Tentang keutamaan hari Asyura’ ini, banyak disebutkan di dalam atsar. Di antaranya, bahwa Nabi Adam diterima taubatnya pada hari Asyura’. Pada hari itu juga Nabi Adam diciptakan, dan dimasukkan ke surga. Arasy diciptakan juga pada hari Asyura’, begitu pula halnya dengan Kursi, langit, bumi, matahari, bulan, dan bintang-bintang. Nabi Ibrahim al-Khalil dilahirkan pada hari Asyura’, dan ia diselamatkan dari api juga pada hari itu. Demikian pula dengan keselamatan Nabi Musa dan orang-orang yang mengikutinya juga pada hari Asyura’. Nabi Idris diangkat ke langit pada hari Asyura’ dan pada hari itu juga ia diangkat kepada kedudukan yang tinggi. Pada hari itu bahtera Nabi Nuh mendarat di Judy.
Dalam Asyura’ pula Nabi Sulaiman diberi kekuasaan yang besar, Nabi Yunus dikeluarkan dari perut ikan, penglihatan Nabi Ya’kub dikembalikan padanya, Nabi Yusuf dikeluarkan dari sumur dan dihilangkannya penderitaan Nabi Ayyub. Hujan pertama kali turun dari langit ke bumi juga pada hari Asyura’.
Hari 'Asyura'
Berpuasa pada hari itu lebih dikenal di antara umat-umat ini sehingga dikatakan, bahwa sesungguhnya dia adalah fardhu sebelum Ramadhan, tetapi kemudian dinaskh. Nabi saw. berpuasa pada hari itu sebelum hijrah dan ketika telah memasuki Madinah, beliau mengukuhkan anjurannya. Sehingga beliau bersabda pada akhir umurnya yang mulia, “Seandainya aku hidup pada tahun yang akan datang, sungguh aku akan berpuasa tanggal sembilan dan sepuluh (Muharram).” Tetapi kemudian beliau telah berpindah ke Rafiiqul A’la (wafat) pada tahun itu pula, dan belum sempat berpuasa, kecuali tanggal sepuluh. Akan tetapi beliau menyukai puasa pada hari itu dan juga puasa tanggal sembilan, dan bahkan tanggal sebelas. Beliau bersabda, “Berpuasalah Anda sebelum dan sesudahnya satu hari dan berbedalah Anda dengan orang-orang Yahudi.” Yakni, orang Yahudi hanya berpuasa tanggal sepuluh saja.”
Imam Baihaqi meriwayatkan dalam kitab Syu’abul Iman, “Barangsiapa yang membuat kelapangan atas keluarga dan istrinya pada hari Asyura’, Allah akan melapangkan padanya dalam sisa waktu setahunnya.” Dan dalam sebuah riwayat munkarah, Imam at-Thabrani dikatakan, “Sedekah satu dirham pada hari Asyura’ sama dengan tujuh ratus ribu dirham.” Sedangkan mengenai hadis yang menerangkan, bahwa barangsiapa yang memakai celak mata pada hari Asyura’, maka ia tidak akan sakit. Maka semua itu adalah hadis maudhu’. Hakim menjelaskan, bahwa memakai celak mata pada hari Asyura’ adalah perbuatan bid’ah. Ibnul Qayyim berkata, sesungguhnya hadis yang menerangkan bercelak mata, memasak biji-bijian, memakai minyak dan memakai wangi-wangian pada hari Asyura’ adalah dari perbuatan para pendusta.
Ketahuilah, bahwa apa yang menimpa Sayyidina Husain ra. berupa bencana pada hari Asyura’ itu, sesungguhnya hanyalah sebuah kesaksian (syahadah) yang menunjukkan bertambah tinggi kedudukan dan derajatnya di sisi Allah, dan mempertemukannya dengan ahli baitnya yang suci-suci. Maka barangsiapa yang menyebutkan tentang musibahnya pada hari itu, maka tidak seyogyanya, kecuali hendaklah membaca istirja’ (Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiuun), karena mengikuti perintah Allah, dan memelihara apa yang disertakan Allah dari hal itu. Allah swt. berfirman,

أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ (١٥٧)
Artinya: “Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 157).
Takutlah dan takutlah dari perilaku bid’ah-bid’ah kaum Rafidhah atau yang semisalnya, yaitu meratapi dan menangisi mayit dengan menjerit-jerit dan meraung-raung serta merobek-robek pakaian karena tidak merelakan atas terjadinya takdir dan terlalu hanyut dalam kesedihan dan kepedihan. Karena semua itu bukanlah termasuk orang-orang yang beriman. Jika tidak, tentu kakek beliau, yaitu Nabi saw. ketika wafat lebih patut untuk diratapi dan ditangisi dengan cara seperti itu. Cukuplah Allah bagi kami, Dialah sebaik-baik Pelindung dan Pemberi pertolongan.

Sumber: Al-Ghazali, Mukasyafah al-Qulub (Menyingkap Rahasia Qalbu),terj., penerjemah: Moh. Syamsi Hasan, Surabaya: Penerbit Amelia Surabaya, tth. Hlm. 518-520.